Jumat, 24 Februari 2012

Sunday, January 3, 2010, 03:44 AM
Oleh: Drs.  Jamalludin Sitepu, MA
Membicarakan peningkatan pariwisata juga harus melibatkan ketertiban dan keamanan masyarakat, perekonomian pengusaha kecil dan menengah di lokasi pariwisata, pelayanan publik oleh petugas PBB dan retribusi, dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Artinya upaya peningkatan pariwisata di Kabupaten Langkat juga berarti peningkatan pembangunan wilayah Kabupaten Langkat secara komprehensif.
Peningkatan pariwisata di Kabupaten Langkat sangat penting karena saat ini kontribusi pariwisata kepada PAD Langkat baru sekitar 1 % (keterangan Wakil Ketua DPRD Langkat, Abdul Khair lewat handphone dengan penulis, 16 Desember 2009). Seperti diketahui, PAD Langkat (PBB dan retribusi) pada tahun 2008 mencapai Rp 23 milyar dan pada tahun 2009 diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 31 milyar. Jadi 1% dari Rp 31 milyar adalah sekitar Rp 31 juta. Itu adalah jumlah yang sangat sedikit.

Namun penulis berpendapat, walaupun jumlah yang diterima Pemkab Langkat relatif masih sedikit, masyarakat sekitar 22 lokasi pariwisata di Kabupaten Langkat banyak berperan dan memperoleh keuntungan finansial dari kegiatan-kegiatan pariwisata yang ada lewat penyediaan jasa transportasi, penginapan, penjualan souvenirm, restoran, kedai, dan penyediaan barang dan jasa lainnya.

Di tingkat dunia, pariwisata adalah salah satu industri terbesar dunia dan paling cepat pertumbuhannya. Menurut World Trade Organisation (WTO), dalam 50 tahun terakhir pariwisata dunia hanya pernah turun dua kali, yakni pada tahun 1982 ketika terjadi krisis minyak dan pada tahun 2001 ketika terjadi serangan terhadap gedung WTC di New York dan wabah penyakit kuku dan mulut sapi di Eropa Utara.  WTO meramalkan pada tahun 2020 wisatawan dunia akan mencapai 1,5 milyar orang.

Alasan Berpergian


Menurut Mansfeld (1983), ada 2 teori orang berpariwisata, yakni (1) Wanderlust: pergi ke tempat yang tidak diketahui, dan (2) Sunderlust: pergi ke tempat dengan hal-hal yang tidak ada di tempat tinggalnya.

Untuk peningkatan pariwisata di Kabupaten Langkat, teori Sunderlust kelihatannya lebih sesuai. Teori ini diperkuat oleh Kippendorf yang menyatakan bahwa orang berpergian lebih karena ingin lari dari rutinitas yang dialami wisatawan. Artinya motif pribadi lebih kuat daripada faktor-faktor penarik lainnya.
  
Jenis-Jenis Pariwisata

1. Pariwisata Alam
Menurut Ceballos-Lascurain (1996), wisata alam adalah semua wisata yang langsung tergantung pada penggunaan sumber daya alam yang asli, termasuk pemandangan, topografi, air, tumbuhan, dan kehidupan liar. Termasuk di dalamnya jelajah hutan, arum jeram, pemandian, menyelam, memancing, air panas, memanjat gunung, dan lain sebagainya yang berbasis alam.

Wisata pedesaan juga dimasukkan dalam kateogori ini. Ilmuwan-ilmuwan lainnya menyebut ini juga sebagai eco-tourism. Di Kabupaten Langkat, wisata jenis inilah yang paling dominan. Bukit Lawang, Tangkahan, Pantai Biru, Aras Napal, Pamah Semelir, Gua Kampret, Gua Batu Rizal, Air Terjun Lau Berte, dan Pangkal masuk ke dalam kategori ini.

2. Pariwisata Budaya
Badan Pariwisata Dunia, World Tourism Organisation (1985) mendefinisikan pariwisata budaya sebagai perpindahan orang karena alasan-alasan budaya. Termasuk didalamnya pertunjukan seni, tour budaya, festival, kunjungan ke tempat dan monumen bersejarah, keseniaan rakyat, dan ziarah.

Di Kabupaten Langkat yang termasuk kategori ini adalah Babussalam, Masjid Azizi, dan makam Amir Hamzah. Penulis berpendapat pariwisata budaya di Langkat belum digarap secara maksimal. Pertunjukan-pertunjukan seni, seperti tari serampang dua belas, kuda kepang, ketoprak/ludruk, atau perkolong-kolong tidak dikordinasi. Monumen-monumen bersejarah belum maksimal dipromosikan.

3. Pariwisata Olahraga
Ada 2 syarat yang diperlukan untuk bisa dikategorikan sebagai wisatawan olahraga. Pertama, mereka berpergian lebih dari 80 km atau menginap. Dan kedua, olahraga adalah alasan mereka berpergian. Jika ini dikaitkan dengan wilayah Kabupaten Langkat, berarti peristiwa olahraga itu haruslah minimal setingkat provinsi, atau se-Sumatera Utara. Misalnya kejuaraan dayung tradisional se-Sumatera Utara, kejuaraan tinju se-Indonesia, dan lain sebagainya dalam tingkat nasional bahkan internasional.

Pariwisata olahraga ini mempunyai 5 keuntungan, yakni: peningkatan identifikasi/reputasi daerah, pembangunan mental generasi muda, peningkatan budaya kaum minoritas, pembangunan semangat kesukarelawanan, dan pembangunan daerah.     

4. Pariwisata Ekonomi
Pariwisata model ini adalah kategori terbaru dalam dunia pariwisata. Model ini pertama kali muncul dari pengalaman di Hungaria, yaitu wisata anggur. Seperti yang juga yang pernah penulis alami ketika mengadakan kunjungan ke Hungaria pada bulan Juli 2007. Delegasi seminar anti korupsi dari 30 negara dibawa ke kota Egerwin, sebuah kota penghasil anggur merek Egerwin. Para wisatawan dibawa ke sekeliling pabrik anggur untuk melihat proses pembuatan anggur dan pengemasannya.

Dalam konteks Kabupaten Langkat, wisata ekonomi ini secara tidak sengaja telah terlaksana. Penulis seringkali melihat puluhan wisatawan mancanegara di tengah-tengah perkebunan sawit di desa Padang Cermin mengamati pohon-pohon sawit serta buahnya. Artinya wisata kelapa sawit bisa menjadi sebuah temuan baru pariwisata di Kabupaten Langkat bila dikemas secara lebih profesional dan menarik.  Berangkat dari sini bisa dipikirkan tentang konsep wisata kolang-kaling, atau makanan dan minuman, serta souvenir khas Langkatnya lainnya.

Tantangan


Penulis melihat sedikit ada 4 tantangan terhadap pengembangan pariwisata, yakni:

1. Premanisme.
Dalam sebuah sambutannya di Namusira-sira pada Desember 2008 lalu, Bupati Langkat saat itu, Yunus Saragih, mengatakan hendaknya premanisme dalam segala bentuk harus bersih dari tempat wisata.

Pada tahun 2001 juga aksi premanisme pernah mencoreng reputasi Bukit Lawang sebagai kawasan wisata favorit mancanegara di Kabupaten Langkat. Untuk menanggulangi ini aparat keamanan dan masyarakat harus bekerjasama untuk memberantas premanisme di lokasi-lokasi pariwisata karena kenyamanan dan ketertiban adalah syarat mutlak bagi pariwisatawan.

2. Kebiasaan Buruk
Sebahagian warga masyarakat mempunyai kebiasaan buruk mengotori lingkungan pariwisata, yakni membuang sampah dan kotoran, baik dari manusia maupun industri, ke sungai atau aliran-aliran air lainnya. Kalau kita melintas di sepanjang sebuah sungai, misalnya di aliran Sungai Wampu atau Sungai Bingei, kita akan melihat WC-WC bersusun di sepanjang bantaran sungai. Rumah-rumah dibangun dengan membelakangi sungai.

Untuk pengembangan pariwisata, kebiasaan buruk ini harus diubah atau dihilangkan. Rumah-rumah warga harus dibangun dengan menghadap sungai. Sampah-sampah dan kotoran tidak boleh dibuang ke sungai tapi ditempat pembuangan sampah untuk kemudian ditimbun atau dibakar. WC-WC harus dibuat jauh dari sungai atau sumber air demi kesehatan dan keindahan.

3. Distorsi Budaya Lokal
Budaya-budaya lokal bisa hilang dengan masuknya budaya-budaya asing yang masuk bersama para wisatawan mancanegara. Ini bisa mengakibatkan pergesekan atau benturan budaya, yang juga berpotensi merusak keamanan dan ketertiban lokasi pariwisata.  Untuk meredam ini, solusinya adalah menghadirkan budaya-budaya tradisional atau masyarakat setempat sebagai penarik. Dengan demikian perekonomian warga dan pemerintah meningkat, begitu juga kebudayaan tradisional daerah setempat.

4. Pembalakan Liar
Dalam konteks wilayah Kabupaten Langkat, penghentian pembalakan liar (illegal logging) mutlak harus dilakukan. Primadona pariwisata Langkat, seperti Bukit Lawang dan Tangkahan sangat mengandalkan hutan gunung Leuser dan alam di sekitarnya. Pembalakan liar akan mengakibatkan hilangnya habitat hewan-hewan liar, seperti orang utan, dan menghancurkan ekosistem sungai.

Promosi

Peningkatan pariwisata tak bisa dilepaskan dari promosi. Negara-negara lain dan agen-agen pariwisata menghabiskan jutaan dolar untuk promosi pariwisata. Di tingkat nasional, pemerintah Indonesia terus berpromosi, seperti Visit Indonesia 2009, dan lainnya.

Sumut Expo III 2009 di Jakarta baru-baru ini juga tak lepas dari usaha pemerintah Provinsi Sumatera Utara. Penyebaran brosur, berita dari mulut ke mulut, dan internet adalah juga teknik-teknik promosi yang tak bisa ditinggalkan.

Dalam konteks wilayah Langkat, penulis melihat semua upaya itu telah dilakukan, baik oleh pemerintah Kabupaten Langkat maupun oleh pengusaha-pengusaha pariwisatanya. Namun, frekwensi dan kualitasnyan mesti terus ditingkatkan, khususnya lewat media internet yang kini telah menjadi media produktif untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke sebuah lokasi pariwisata

Kesimpulan dan Rekomendasi

Pariwisata di Kabupaten Langkat sangat potensial untuk meningkatkan PAD Langkat dan kesehjateraan rakyat. Lokasi-lokasi wisata alam seperti Bukit Lawang dan Tangkahan telah terkenal di seluruh dunia.

Ribuan wisatawan budaya dari mancanegara telah meramaikan Babussalam. Kualitas pelayanan publik dan masyarakat di lokasi-lokasi ini perlu terus ditingkatkan, terutamanya seperti perbaikan infrastruktur jalan, keamanan dan kenyamanan. Eksplorasi dan inovasi wisata ekonomi dan olahraga juga untuk dicoba. Siapa tahu Langkat punya andalan ikon pariwisata baru. Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Karya Tulis Hari Jadi Langkat ke-260.
Penulis adalah Wakil Ketua KNPI Langkat dan Direktur Eksekutif LSM Elppamas.
Sumber: http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=39330:meningkatkan-pariwisata-di-kabupaten-langkat&catid=94:pariwisata&Itemid=124

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar